Tampilkan postingan dengan label Geo Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geo Politik. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Maret 2014

REPORTASE LERENG SINDORO


     Temanggung, itulah lokasi dari kegiatan lapangan kali ini. Sudah menjadi rutinitas bagi ponpes Taruna Panatagama untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar dan ujian semester diluar kelas. Kegiatan kali ini dilakukan di pedesaan lereng gunung Sindoro tepatnya di desa Bansari, kecamatan Bansari, kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Disana “anak-anak” _maksudnya santri_ berbaur dengan masyarakat yang umumnya petani. Mayoritas petani disana sangat bergantung dengan komoditas Tembakau (Nicotiana tobacum), walau saat ini sudah mulai mencoba bercocok tanam dengan komoditi yang lain yakni sayuran.

     Konsep belajar langsung kepada obyeknya memang sudah sejak awal digagas sejak berdirinya ponpes ini. Karena dengan konsep pembelajaran yang demikian “anak-anak” tidak lagi terpenjara dengan teori-teori, konsep-konsep yang ada di buku-buku pelajaran. Buku pelajaran memang bermanfaat memberikan maklumat bagi peserta didik, tetapi itu hanyalah awalan untuk memahami fakta(onyek) yang sebenarnya yakni; alam semesta, masyarakat dan al-Quran yang masing masing diramu dalam masing-masing peergroup pelajaran sains, sosial dan tsaqofah.

     Kegiatan berlangsung selama 12 hari semenjak 8 januari 2014 hingga selesai. Memang rentang waktu kegiatan demikian dirasa yang cukup lama jika dibandingkan kegiatan outdoor setaraf sekolah menengah. Apakah kemudian muncuk kekawatiran apabila ada “anak-anak” merasa bosan? Tidak, justru dengan pembelajaran di alam, “anak-anak” merasakan suasana baru, pengalaman baru dan teman-teman baru yang itu justru tidak mereka dapatkan jika pembelajaran berlangsung di kelas. [aga]
 
FOTO SANTRI PUTRA



 

 



































Senin, 23 Juli 2012

Kegiatan Observasi dan Matrikulasi Santri Panatagama Gelombang I

Proses kegiatan observasi yang dilakukan santri ini merupakan serangkain program yang memang sudah dijadwalkan untuk para calon santri baru untuk melihat potensi masing-masing pada diri para santri. Pada kegiatan kali ini mereka diajak berkeliling mengenal wilayah disekitar pondok pesantren, mereka dikenal tentang potensi daerah sekitar, dikenalkan tentang keadaan ekonomi penduduk, kondisi struktur kemasyarakat dan keberagaman ekosistem alam yang ada.

Proses pengamatan mereka lakukan dengan dimulai dari mengelilingi area persawahan, kemudian mereka diminta untuk melakukan pengamatan terhadap ekosistem yang mereka temui dan melihat bagaimana para petani disana melakukan proses panen padi disawahdan lainsebagainya berikut beberapa dokumentasi yang berhasil diliput oleh Ustdz. Abdur Rozaq MS.













Sabtu, 23 Juni 2012

Mengenal Ilmuwan Muslim Pembuat Peta Dunia Pertama


Ilmuwan Muslim Pencipta Peta Dunia Pertama
Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (Al-Kahfi:109).

Di surat Al-kahfi tersebut jelas tertulis bahwa sains dan teknologi yang dikuasai oleh manusia bukanlah sesuatu yang besar sepertihalnya yang pernah diagung-agungkan manusia. Hingga seberapa kuat dan pandainya manusia memikirkan apa yang diciptakan oleh Allah SWT, maka tetap dipenghujung urat syaraf ini akan ditemui sebuah jalan buntu. Cerita berikut ini tentu saja akan mengubah pola pandang pikiran Anda yang selama ini telah terdoktrin dengan ilmu-ilmu dan penemu dari Barat.
Sebuah pameran yang diadakan di Malaysia awal tahun ini membuka tabir bagaimana hebatnya para penemu Islam dalam mempelopori perkembangan ilmu pengetahuan. Di dasari pemikiran bahwa tidak ada ilmu selain bersumber dari Allah dan hanya sedikit pengetahuan yang dimiliki oleh manusia ini, tersirat berbagai revolusi dan inovasi yang berhasil dibuat pada masa keemasan Islam.
Berbagai hasil karya berhasil dikoleksi dan ditemukan sedikitnya sebanyak 148 replika dihasilkan oleh para pemikir dan ilmuwan Islam. Replika tersebut antara lain berupa instrumen peralatan dan poster. Kesemuanya itu pada Januari 2007 lalu dipajang di Pusat Konvensyen Kuala Lumpur (KLCC), Malaysia. Ilmu-ilmu dan hasil karya ratusan abad silam ini hingga sekarang dijadikan sebagai dasar pengetahuan ilmu-ilmu baru.
Contoh nyata paling rumit, detail dan bagaimana pandainya para ilmuwan Islam masa lalu ini adalah seperti karya arsitektur yangterdapat pada ubin-ubin di masjid Timur Tengah. Hingga puluhan tahun diperhitungan baru pada tahun ini karya seni yang sudah ratusan tahun selalu dibuat dan tanpa kesalahan pengulangan tersebut berhasil dipecahkan oleh ilmuwan saat ini dengan hitungan matematis.
Dr. Fuat Sezgin yang juga Pengarah dan Pengasas Institut Sejarah Sains Arab-Islam, Universiti Johann Wolfgang, Goethe, Frankfurt, Jerman, mengatakan bahwa kehebatan ilmuwan Islam ratusan abad silam adalah kehebatan yang tidak ternilai. Pada abad kegemilangan Islam banyak orang-orang Eropa yang belajar untuk menuntut ilmu di berbagai cabang pengetahuan dari para pakar Islam. Tetapi setelah zaman kegelapan datang banyak pula hasil-hasil ilmuwan tersebut yang juga diselewengkan dan kemudian disebarluaskan dengan informasi yang salah secara meluas.
Ia memberi contoh seperti Al-Razi, adalah ilmuwan terkemuka yang menjadi penemu teknik jahit luka. Ilmuwan kelahiran Iran tersebut tidak sangat terkenal dibandingkan dengan Ibnu Sina yang sebenarnya adalah muridnya. Tokoh ilmuwan Islam ini yang sebenarnya bernama Muhammad bin Zakaria juga terkenal tidak tertandingi pada masanya ditahun 240 Hijriah/854 Masehi. Di dunia pengobatan ia sangat pandai meramu, mengenali dan menemukan obat. Al-Razi selain menjadi orang pertama yang membuat jahitan dengan benang terbuat dari serat juga dikenal sebagai orang pertama yang berhasil membedakan antara penyakit cacar dengan campak.
Peta Dunia Pertama oleh Kaum Muslimin
Jika Anda ditanya siapa penemu benua Amerika? Tentu jawaban yang terlintas adalah Columbus. Pria penjelajah dari Spanyol yang lahir di tahun 1451 dan memiliki nama lengkap Christopher Columbus ini oleh para siswa dan guru sangat dikenal sebagai pelaut dan pedagang yang pertama kali menemukan benua tersebut. Namun apakah itu benar? Ternyata tidak.
Catatan berbagai sejarah dan penemuan-penemuan yang berhasil dikumpulkan oleh para sejarahwan terungkap bahwa telah banyak orang-orang yang berprofesi sama dari Negeri Eropa juga pernah mengekspansi dagangannya ke benua tersebut. banyak sejahrawan pula yang berdebat bahwa para pedagang dari Negeri Chinalah yang pertama kali mendaratkan kakinya di benua Paman Sam tersebut pada abad ke-11.
Namun terlepas dari bukti-bukti dan perdebatan yang panjang, tahukah Anda bagimana mereka bisa berjalan-jalan dan menyeberangi lautan yang maha luas tersebut. Jawaban sederhananya tentu saja dengan berbekal peta dan penunjuk arah mereka bisa menyeberangi lautan. Dari perjalanan mereka tersebut maka tersingkaplah peta-peta yang terus berevolusi berdasarkan pengamatan para pelaut yang terus turun temurun. Dan untuk pertama kalinya peta dunia terlengkap dibuat pada tahun 1513.
Adalah karya seorang pelaut Piri Reis yang membuat para peneliti dan sejahrawan terkagum-kagum. Tidak hanya kagum dengan bagimana hasil pemetaan tersebut dapat digambarkan, akan tetapi para ahli satelit sendiri pun merasa terkejut dengan model pemetaan yang dibuat oleh tokoh Muslimin tersebut.
Bagimana tidak, peta yang dibuat diatas sepotong kulit rusa berukuran 90×65 centimeter tersebut benar-benar digambarkan lengkap dan cukup detail. Bahkan hasil perbandingan dengan pemotretan dari angkasa luar yang dilakukan menggunakan satelit saat ini memiliki bentuk yang sangat mirip.
Mulanya para sejahrawan tidak percaya akan bukti keberadaan peta tersebut. Di peta yang terlihat jelas hanyalah kawasan Laut Timur Tengah. Sementara kawasan lainnya seperti benua Afrika dan Amerika sama sekali tergambar sangat berbeda. Baru setelah gambar hasil pemotretan satelit jaman modern ini dipadukan dengan peta kuno karya muslimin bangsa Turki tersebut sangat nyata kebenarannya bahwa gambar yang ditorehkan dalam kulit tersebut memang sangat detail dan terperinci.
Peta asli dipadukan dengan peta masa kini dari satelit, sangat akurat dan sempurna

Peta asli jaman dahulu, dibuat tanpa bantuan satelit
Penemuan kuno tersebut memberikan bukti bahwa memang ilmu kemajuan jaman dahulu sudah sangat maju dalam bidang astronomi. Entah bisa disangkal atau tidak akan tetapi bukti-bukti lain beserta keajaiban dunia yang ditinggalkan masa pemerintahan masa lalu menunjukkan bahwa ilmuwan pada masa itu menguasai ilmu pengetahuan dengan sangat baik dan bisa menyamai peralatan canggih yang dimiliki oleh manusia jaman modern saat ini.
Meski sejahrawan masa sekarang tidak mengetahui bagaimana Piri Reis bisa menggambarkan peta dunia tersebut dengan sangat akurat, namun Piri Reis mengungkapkan semasa hidupnya bahwa peta tersebut berhasil ia buat dari penyatuan beberapa peta yang dibuat oleh para pelancong dari berbagai negara. Ia menyebutkan menggunakan 34 sumber yang berbeda. Karya tersebut berasal dari jaman Alexander sebanyak 20 peta, 8 peta dari karya ahli geografi Muslim, 4 peta dari Portugis dan 1 peta dari Columbus.
*****
( Sumber Artikel : IslamIsLogic.wordpress.com )

Jumat, 22 Juni 2012

KURIKULUM TARIKH WA SIYASAH


Mengapa Madrasah Salafiyah Khairu Ummah Panatagama Yogyakarta menyelenggarakan program pembelajaran sejarah, di mana dalam hal ini program tersebut terwujud pada mata pelajaran yang diberi nama Tarikh wa Siyasah? Dengan kata lain, pemikiran apakah yang melandasi diselenggarakannya program pembelajaran tersebut?

Landasan Pemikiran Pembelajaran Tarikh Wa Siyasah
Secara garis besar jawaban atas pertanyaan di atas akan berkisar pada pemahaman akan arti penting informasi sejarah / pembelajaran sejarah dan kaitannya dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh Madrasah Salafiyah Khairu Ummah Panatagama Yogyakarta. Berkaitan dengan arti penting informasi sejarah / pembelajaran sejarah dan kaitannya dengan tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan oleh Madrasah Salafiyah Khairu Ummah  Panatagama Yogyakarta, maka kami  sampai kepada kesimpulan sebagai berikut:
Pertama; Hampir keseluruhan  teks sejarah di dalamnya memuat kisah perjalanan hidup orang-orang besar. Maka dalam hal ini tidak terlau berlebihan jika fenomena tersebut dikatakan sebagai fenomena yang universal. Bahkan ada yang sampai pada kesimpulan bahwa sejarah adalah kisah hidup orang-orang besar. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang prestasi atau kegemilangan orang-orang tersebut dan terdapat juga penjelasan atau paling tidak gambaran kondisi keseharian, akhlaq, sikap hidup, karakter-karakter unggulan dan berbagai aspek internal lainnya yang ada pada orang-orang tersebut yang menjadi pra kondisi bagi sampainya orang-orang tersebut pada predikat orang-orang besar atau pra kondisi yang membuatnya sampai pada kemampuan melakukan hal-hal besar yang menjadi  prestasi atau kegemilangannya.
Kenyataan teks sejarah sebagaimana tersebut di atas, kaitannya dengan pembahasan ini atau yang menjadi titik tekan dalam pembahasan ini adalah bahwa keberadaan teks sejarah yang demikian merupakan materi pembelajaran yang dapat digunakan oleh para pendidik untuk membantu mewujudkan visi hidup yang tinggi / besar pada anak-anak didiknya. Sehingga melalui pembelajaran sejarah akan dimungkinkan visi hidup yang tinggi / besar terwujud pada anak didik atau minimal dengan pembelajaran sejarah tersebut akan tertolong untuk terwujud, karena mewujudnya visi hidup yang tinggi / besar pada anak didik tidak hanya digantungkan pada pembelajaran sejarah tetapi digantungkan pula pada pembelajaran-pembelajaran yang lain. Selain itu, melalui pembelajaran sejarah dimungkin pula adanya transfer keseharian,  akhlaq, sikap hidup, karakter-karakter unggulan dan berbagai aspek internal lainnya yang ada pada orang-orang yang berpredikat orang besar   pada anak didik.
Kesimpulan ini bukan sesuatu yang mengada-ada akan tetapi sesuatu yang medapatkan pembenarannya pada realitas. Kita telah sampai pada pengetahuan, bahwa pada masa lalu, lebih banyak kita jumpai orang-orang besar, atau setidaknya orang-orang yang memilki sikap dan mentalitas orang besar, di mana jika kita telusuri, maka kita akan sampai pada kesimpulan, bahwa hal tersebut terjadi, salah satunya adalah karena dilatar belakangi oleh adanya pembelajaran sejarah atau lebih spesifik biografi  orang-orang besar yang memadai.  Dalam konteks peradaban Islam hal itu dapat kita simpulkan dari upaya pengajaran terhadap sirah Nabawiyah, tarikh para Nabi dan Rasul, sirah Shahabat, biografi para Khalifah, biografi para Imam Mujtahidin, kisah para Mujahid, kisah orang-orang Shalih dan yang semisal yang marak di dunia Islam dari sebagian abad-abadnya dan selalu dianggap sebagai hal yang sangat penting.
Jika kita bandingkan dengan keadaan sekarang ini, tentu saja sangat berbeda. Sulit untuk masa sekarang ini, kita menjumpai orang-orang besar atau memiliki sikap dan mentalitas orang-orang besar, karena salah satu faktor terpenting yang melatar belakanginya, sebagaimana disebut di atas, tidak ada atau jikalu pun ada sangat sedikit / tidak memadai.
Sekarang ini, jika kita menanyakan pada anak-anak dan remaja-remaja, tentang visi hidup atau cita-cita mereka, kita akan mendapati kebanyakan mereka bercita-cita menjadi pesepak bola dan atau selebriti, dan jika mereka ditanya tentang siapakah menurut mereka orang hebat yang menjadi idola mereka di mana mereka ingin menirunya, tentu saja jawabannya adalah para pesepak bola dan para selebriti. Sekolah sepak bola ( SSB ) dan ajang pencari bakat seperti Indonesian Idol menjadi sangat marak.
Mengapa jawaban mereka demikian dan mengpa meraka menjadi demikian? Tentu saja, salah satunya adalah karena mereka dicekoki dengan ”sejarah” dan ”biografi”para pesepak bola dan para selebriti baik melalui televisi atau pun bacaan mereka hampir di setiap hari-hari mereka.
Beberapa kenyataan di atas yaitu kenyataan kontens teks sejarah dan kenyatan perkembangan kesadaran anak-anak dan remaja beserta beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan kesadaran tersebut, sekali lagi, akan mengantarkan kita pada satu kongklusi bahwa adalah mungkin untuk membangun visi hidup yang besar / yang tinggi pada anak didik melalui pembelajaran sejarah atau setidaknya pembelajaran tersebut mampu membantu terwujudnya visi hidup yang besar / tinggi pada anak didik. Maka pembelajaran sejarah yang sesuai dengan cita-cita pendidikan Islam yang juga merupakan cita-cita pendidikan Madrasah Salafiyah Khairu Ummah Panatagama Yogyakarta  harus di wujudkan.
Sebagaimana telah ditekadkan oleh Madrasah Salafiyah Khairu Ummah Panatagama Yogayakarta bahwa akan lahir melalui rahim pendidikan yang diusahakannya manusia-manusia besar yaitu negarawan-negarawan Islam, maka suatu keharusan bagi Madrasah Salafiyah Khairu Ummah Panatagama untuk mewujudnya visi menjadi negarawan Islam tersebut dalam benak anak-anak didiknya. Penanaman visi ini tidak boleh gagal. Jika penanaman visi ini gagal maka sesungguhnya hal ini adalah kegagalan pada langkah pertama yang menjadikannya tidak layak untuk mengusahakan langkah-langkah berikutnya. Dalam hal ini pembelajaran sejarah yang sedemikian hingga yang bersesuaian dengan cita-cita pendidikan di atas ditempuh oleh Madrasah Salafiyah Panatagama Yogyakarta karena dinilai sebagai sebab di antara rangkaian sebab yang akan menghantarkan kepada musabab yaitu tujuan yang dicita-citakan.
Kedua; Terdapat banyak teks sejarah umat Islam  yang ditulis oleh pihak-pihak di luar Islam dan atau ditulis oleh putera-puteri kaum Muslim yang terpengaruh pihak-pihak di luar Islam tersebut. Hampir dipastikan bahwa sebagaian besarnya untuk tidak mengatakan keseluruhannya, bahwa teks-teks tersebut tidak adil atau tidak benar dalam memberikan gambaran  terhadap sejarah uamt Islam.
Kondisi ini, yaitu adanya teks-teks sejarah uamt Islam yang salah atau sengaja dibuat salah bahkan merupakan upaya untuk menjelek-jelekkan Islam, umat Islam dan sejarahnya memungkinkan wujudnya konsekuensi-konsekuensi yang tidak menguntungkan bagi Islam dan kaum Muslim. Di antaranya adalah adanya persaan jijik pada sebagian umat Islam terhadap masa lalunya karena informasi yang salah terhadap sejarahnya sendiri. Tidak hanya sampai pada taraf seperti itu saja, bahkan ada kaum Muslim yang merasa malu menyandang predikatnya sebagai Muslim, akibat termakan opini yang salah tentang masa lalu umat Islam, melalui pembelajaran sejarah yang digagas oleh pihak lain tersebut.
Dalam kaitannya dengan persoalan di atas, maka sudah semestinya digagas suatu pembelajaran sejarah yang mampu menguntungkan Islam dan umatnya. Dalam hal ini wujud dari pembelajaran sejarah tersebut haruslah pembelajaran yang mampu menggambarkan sejarah umat Islam yang sebenarnya, dan jika hal tersebut mampu untuk  diwujudkan maka sesungguhnya akan membawa pada konsekuensi timbulnya kebanggaan terhadap Islam dan umat Islam, karena sesungguhnya sebagian besar dari abad-abad masa lalu umat Islam adalah keagungan. Pada taraf selanjutnya, kebanggan tersebut diharapakan  mendorang anak didik untuk mempelajari Islam dengan lebih baik lagi, dan juga menjadi salah satu pendorong mereka untuk memperjuangkan penerapan Islam, dengan kata lain pembelajaran sejarah Islam yang sesuai dengan perspektif Islam merupakan pembekalan yang diperlukan bagi para kader dakwah, dan sebagaimana telah di’azamkan bahwa Madarsah Salafiyah Khairu Ummah Panatagama Yogyakarta adalah salah satu tempat pembekalan bagi para kader dakwah.
Ketiga; Bahwa siapa saja mengkaji sejarah, dimungkinkan untuk memperoleh / mengetahui hukum-hukum universal yang mengatur proses sejarah, termasuk di dalamnya mengetahui bagaimana suatu peristiwa sejarah dan atau suatu kondisi dalam sejarah akan membawa pada konsekuensi-konsekuensi tertentu terhadap kehidupan manusia pada masa yang merupakan kelanjutan dari kehidupannya, di mana hukum-hukum ini berlaku bagi manusia baik sebagai individu, kelompok, dan bahkan suatu umat. Dengan kata lain ia mengetahuai apa yang disebut juga dengan ’filsafat sejarah’ atau mengetahui ’hukum-hukum sosial’ melalui pembelajaran sejarah dan secara lebih spesifik mengetahui hukum sebab akibat yang berlaku dalam proses sejarah yang berlaku baik dalam kehidupan individu, kelompok maupun keumatan.
Dalam kenyatannya baik yang terekam oleh sejarah maupun yang tidak, kita mendapati  adanya individu yang unggul dalam hidupnya akan tetapi ada pula yang tersingkir, ada kelompok yang mampu memenangi suatu percaturan hidup akan tetapi ada pula kelompok yang tak mampu beranjak menapaki kemajuan bahkan menjadi pecundang dan sebagaimana kita dapati ada umat yang bangkit dan di saat bersamaan ada pula yang jatuh tersungkur. Dengan memahami kenyataan dalam lingkup kehidupan manusia yang demikian tersebut, baik melalui penginderaan langsung maupun melalui informasi sejarah, memungnkinkan manusia untuk mampu menyimpulkan sebab-akibat yang mengantarkan suatu individu, kelompok, dan umat kepada keaadaan yang melingkupinya.
Ketika seseorang atau sekelompok orang mampu untuk memhami hukum-hukum yang mengatur prses sejarah yang berlaku dalam lingkup individu misalnya, maka diharapkan ia menjadi bijak dalam menentukan pilihan-pilihan hidupnya, karena memahami konsekuensi-kensekuensi yang akan wujud pada dirinya atau yang akan melingkupi dirinya di masa yang akan datang. Dengan kata lain ia memahami bahwa tindakannya di masa kini akan menentukan kondisinya di masa mendatang sebagai mana ia memahami bahwa keputusannya di masa lalu sedikit atau banyakanya akan  berkonsekuensi di masa kini. Tidak hanya itu bahkan ia menjadi bijak dan mampu berempati serta memperlakukan sesamanya dengan baik, karena kemampuan memahami kondisi orang lain beserta faktor-faktor yang melatar belakanginya di masa lalu orang tersebut
Dalam kaitannya dengan hukum-hukum universal kesejarahan yang berlaku atas kelompok ( partai, organissasi, pergerakan dan yang semisalnya ) ia diharapakan mampu untuk sampai ke pada kesimpulan tentang bagaimana yang seharusnya suatu kelompok mampu mempengaruhi bahkan mengubah kondisi masyarakat, dan mampu pula menilai keberadaan kelompok yang ada pada saat ini dan kaitannya dengan kemampuan kelompok tersebut untuk mempengaruhi masyarakat. Bahkan diharapakan ketika ia bergabung dengan kelompok tertentu ia mampu untuk mengarahkan kelompok tersebut pada aksi-aksi yang relevan dengan gagasan yang diemban oleh kelompoknya tersebut.
Anak didik diharapkan juga melalui pembelajaran sejarah akan sampai pada kesimpulan yang benar terhadap hukum-hukum universal kesejarahan dalam level keumatan. Misalnya, ia memahami makna kebangkitan dan memahami makna kemunduran bahkan pada taraf selanjutnya ia akan mampu memberi kesimpulan pada realitas umat tertentu yang sedang diinderanya; apakah umat tersebut dalam kondisi bangkit / maju ataukah mundur?
Setelah memahami hukum-hukum tersebut, melalui pembelajaran sejarah, ia diharapkan pula mampu memahami hukum-hukum kesejarahan yang khusus berkaitan umat Islam. Misalnya, ia memahami seperti apa wujud kebangkitan dalam tubuh umat Islam dan memahami pula cara untuk mewujudkan kebangkitan umat Islam tersebut. Ia mampu pula untuk memberikan penilaian terhadap kondisi umat Islam sekarang; apakah termasuk umat yang bangkit atau justru sebaliknya, dan pada akhirnya -meminjam istilah populer- ia mampu menentukan ”peran kesejarahannya”.
 Keempat; Pemahaman seseorang terhadap sejarah pada tingkat tertentu memungkinkan seseorang memilki setidaknya salah satu syarat atau prasyarat bagi suatu kemampuan atau suatu keahlian, yaitu keahlian di bidang siyasah / politik. Dengan kata lain pembelajaran sejarah memilki relevansi bagi lahirnya sosok politisi ulung. Mengapa demikian? hal ini tidak lain dan tidak bukan karena informasi sejarah, utamanya sejarah politik jika disampaikan dengan format yang tepat maka ia akan menjadi wahana bagi diperolehnya pengalaman-pengalaman politik. Dalam hal ini -lahirnya sosok politisi ulung- merupakan salah satu tujuan dari cita-cita pendidikan Madrasah Khairu Ummah Panatagama Yogyakarta, sehingga pembelajaran sejarah menjadi suatu keharusan sebagai salah satu sebab yang harus dilalui demi tercapainya tujuan tersebut.

Tujuan Umum Kurikulum Tarikh Wa Siyasah
            Dari paparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa tujuan umum kurikulum pembelajaran Tarikh Wa Siyasah Padepokan Kader ’Ulama Panatagama adalah sebagai berikut;
1.                  Menumbuhkan minat yang tinggi terhadap pembelajaran sejarah.
2.                  Menumbuhkan visi hidup yang besar / tinggi pada anak didik.
3.                  Menumbuhkan keseharian, akhlaq, sikap hidup, karakter-karakter unggulan orang-orang besar pada anak didik yang sesuai dengan ajaran Islam.
4.                  Menumbuhkan pemahaman yang benar terhadap masa lalu umat Islam.
5.                  Menumbuhkan rasa bangga terhadapa ajaran Islam,  dan sejarah umat Islam.
6.                  Menumbuhkan adab yang benar terhadap para pejuang Islam masa lalu.
7.                  Menumbuhkan pemahaman yang benar terhadap hukum-hukum kesejarahan / norma-norma sejarah manusia baik dalam level individu, kelompok dan umat.
8.                  Menumbuhkan kesadaran yang benar terhadap pilihan peran kesejarahan pada anak didik.
9.                  Menumbuhkan kemampuan berpikir politis dan sensitivitas politik pada anak didik.
           
Cakupan Materi Tarikh Wa Siyasah
            Dengan mempertimbangkan tujuan umum kurikulum Tarikh Wa Siyasah Madrasah Salafiyah Khairu Ummah Panatagama Yogyakarta sampai pada kesimpulan tentang cakupan materi Tarikh Wa Siyasah, yaitu sebagai berikut:
1.      Kapita selekta kisah Nabi dan Rasul.
2.      Kapita selekta biografi negarawan Islam.
3.      Kapita selekta biografi para Mujahidin.
4.      Kapita sekta biografi para ‘Ulama ( para Imam Mujtahidin, para Imam Muhadditsin, para Fuqaha, para Mufassirin, para pemikir dll )
5.      Kapita selekta biografi para saintis  Muslim.
6.      Kapita selekta gambaran buruk sejarah umat Islam oleh pihak di luar Islam serta penjelasan sejarah yang sebenarnya / perspektif Islam.
7.      Kapita selekta sejarah Islamisasi di berbagai wilayah.
8.      Kapita selekta sejarah kondisi umat Islam pada berbagai kurun, analisis kausal atas kondisi tersebut, analisis penentuan penilaian atas kemajuan atau  kemundurannya.
9.      Kapita selekta studi kasus pengambilan keputusan politik masa lalu yang berpengaruh pada masa kini.
10.  Análisis terhadap kondisi perpolitikan kekinian.

           
Uslub Pembelajaran Tarikh Wa Siyasah:
            Dengan mempertimbangkan realitas karakter materi pembelajaran Tarikh Wa Siyasah, tujuan umum kurikulum Tarikh Wa Siyasah serta hal-hal lain yang relevan, maka Madrasah Salafiyah Khairu Ummah Panatagama Yogyakarta sampai pada kesimpulan tentang uslub pembelajaran
1.      Kelas 1-2: klasikal, drama, nonton Film, misal menonton film kartun Shalahuddin Al-Ayyubi.
2.      Kelas 3-4 :  klasikal, drama, nonton Film, kunjungan
3.      Kelas 5-6 :  klasikal, drama, nonton Film, kunjungan, menceritakan kembali
4.      Kelas 7-8 : klasikal, drama, nonton Film, kunjungan, observasi, diskusi, studi literatur

Kamis, 24 Mei 2012

SEJARAH KESULTANAN SAMUDERA PASAI



SEJARAH KESULTANAN SAMUDERA PASAI
1. Sejarah
Kapan berdirinya Kesultanan Samudera Pasai belum bisa dipastikan dengan tepat dan masih menjadi perdebatan para ahli sejarah. Namun, terdapat keyakinan bahwa Kesultanan Samudera Pasai berdiri lebih awal dibanding Dinasti Usmani di Turki yang pernah menjadi salah satu peradaban adikuasa di dunia. Jika Dinasti Ottoman mulai menancapkan kekuasaannya pada sekitar tahun 1385 Masehi, maka Kesultanan Samudera Pasai sudah menebarkan pengaruhnya di wilayah Asia Tenggara sejak tahun 1297 Masehi.
Sejumlah ahli sejarah dan peneliti dari Eropa pada masa pendudukan kolonial Hindia Belanda telah beberapa kali melakukan penyelidikan untuk menguak asal-usul keberadaan salah satu kerajaan terbesar di bumi Aceh ini. Beberapa sarjana dan peneliti dari Belanda, termasuk Snouck Hurgronje, J.P. Moquette, J.L. Moens, J. Hushoff Poll, G.P. Rouffaer, H.K.J. Cowan, dan lainnya, menyepakati perkiraan bahwa Kesultanan Samudera Pasai baru berdiri pada pertengahan abad ke-13 serta menempatkan nama Sultan Malik Al Salih sebagai pendirinya (Rusdi Sufi & Agus Budi Wibowo, 2006:50). Nama Malik Al Salih sendiri dikenal dengan sebutan dan penulisan yang berbeda, antara lain Malik Ul Salih, Malik Al Saleh, Malikussaleh, Malik Al Salih, atau Malik Ul Saleh.
a. Asal-Usul Penamaan Samudera Pasai
Nama lengkap Kesultanan Samudera Pasai adalah “Samudera Aca Pasai”, yang artinya “Kerajaan Samudera yang baik dengan ibukota di Pasai” (H.M. Zainuddin, 1961:116). Pusat pemerintahan kerajaan tersebut sekarang sudah tidak ada lagi namun diperkirakan lokasinya berada di sekitar negeri Blang Melayu. Nama “Samudera” itulah yang dijadikan sebagai nama pulau yang kini disebut sebagai Sumatra, seperti yang disebut oleh orang-orang Portugis. Sebelumnya, nama wilayah tersebut adalah Pulau Perca.
Sedangkan para pengelana yang berasal dari Tiongkok/Cina menyebutnya dengan nama “Chincou”, yang artinya “Pulau Emas”, seperti misalnya yang diketahui berdasarkan tulisan-tulisan I‘tsing. Raja Kertanegara, pemimpin Kerajaan Singasari yang terkenal, menyebut daerah ini dengan namaSuwarnabhumi, yang artinya ternyata sama dengan apa yang disebut oleh orang-orang Tiongkok, yakni “Pulau Emas”.  
Kesultanan Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatra, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, Aceh Utara sekarang. Catatan tertulis yang selama ini diyakini oleh para sejarawan untuk melacak sejarah Kesultanan Samudera Pasai adalah tiga kitab historiografi Melayu yakni Hikayat Raja Pasai, Sejarah Melayu, dan Hikayat Raja Bakoy. Hikayat Raja Pasaimemberikan andil yang cukup besar dalam upaya menguak riwayat Kesultanan Samudera Pasai, meskipun nuansa mitos masih menjadi kendala dalam menafsirkan kebenarannya.
Letak Kesultanan Samudera Pasai
Mengenai nama “Samudera” dan “Pasai”, muncul sejumlah pendapat yang mencoba mengurai asal-usul penggunaan kedua nama tersebut. Salah satunya adalah seperti yang dikemukakan oleh sarjana Eropa, J.L. Moens, yang menyebut bahwa kata “Pasai” berasal dari istilah “Parsi”. Menurut Moens, kaum pedagang yang datang dari Persia mengucapkan kata “Pasai” dengan lafal “Pa‘Se”. Analisis Moens ini bisa jadi berlaku, dengan catatan bahwa sejak abad ke-7 Masehi para saudagar yang datang dari Persia sudah tiba dan singgah di daerah yang kemudian menjadi tempat berdirinya Kesultanan Samudera Pasai (M.D. Mansoer, 1963:59).
Pendapat Moens mendapat dukungan dari beberapa kalangan, termasuk Prof. Gabriel Ferrand, melalui karyanya yang berjudul L‘Empire (1922), juga dalam buku The Golden Khersonese (1961) yang ditulis oleh Prof. Paul Wheatley. Kedua karya itu menyandarkan data-datanya pada keterangan para pengelana dari Timur Tengah yang melakukan perjalanan ke wilayah Asia Tenggara. Baik Gabriel Ferrand maupun Paul Wheatley sama-sama menyepakati bahwa sejak abad ke-7 Masehi, pelabuhan-pelabuhan besar di Asia Tenggara, termasuk di kawasan Selat Malaka, telah ramai dikunjungi oleh kaum musafir dan para saudagar yang berasal dari Asia Barat. Disebutkan juga bahwa pada setiap kota-kota dagang tersebut telah terdapat fondasi-fondasi atau permukiman-permukiman dari para pedagang Islam yang singgah dan menetap di situ.
H. Mohammad Said, seorang jurnalis sekaligus penulis yang mendedikasikan hidupnya untuk meneliti dan menerbitkan buku-buku hal ihwal Aceh, termasuk tentang Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh Darussalam, cenderung menyimpulkan bahwa asal-muasal penamaan “Pasai” berasal dari para pedagang Cina. Menurut Said, istilah “Po Se” yang populer digunakan pada pertengahan abad ke-8 Masehi, seperti yang terdapat dalam catatan-catatan dan laporan perjalanan pengelana dari Cina, identik dan mirip sekali dengan penyebutan kata “Pase” atau “Pasai” (Said, 1963:2004-205).
Ada pula pendapat yang menyebut bahwa nama “Pasai” berasal dari kata “tapasai”, yang artinya “tepi laut”. Kata “tapa” masih banyak dijumpai dalam bahasa-bahasa Polinesia yang berarti “tepi”. Kata “sai” dapat dimaknai sebagai “laut”, yang juga termasuk dalam kosa kata Melayu-Polinesia atau Nusantara. Kata “Pasai” adalah sinonim dari kata “pantai”. Begitu pula kata “samudera” yang juga berarti “tidak jauh dari laut”. Jadi, baik “Samudera” atau “Pasai” mengandung arti yang kurang lebih sama, yaitu “negara yang terletak di tepi laut” (Slamet Muljana, 2005:136).
Nama Samudera dan Pasai sering disebut-sebut dalam berbagai sumber yang berhasil ditemukan, baik sumber yang berasal dari luar maupun sumber-sumber lokal. Sumber-sumber dari luar nusantara yang kerap menyebut keberadaan wilayah yang bernama Samudera dan Pasai antara lain adalah laporan atau catatan perjalanan para musafir asal Cina, Arab, India, maupun Eropa, yang pernah singgah ke wilayah Samudera Pasai. Catatan-catatan perjalanan tersebut seperti yang ditulis oleh Marco Polo, Odorico, Ibnu Batutah, Tome Pires, serta berita-berita dari Cina. Sedangkan sumber dari dalam negeri salah satunya seperti yang termaktub dalam kitab Negara Kertagama karya Mpu Prapanca yang ditulis dalam kurun abad ke-13 sampai abad ke-14 Masehi.
Ibnu Batutah, seorang pengembara muslim dari Maghribi, Maroko, misalnya, dalam catatannya mengatakan bahwa ia sempat mengunjungi Pasai pada 1345 M. Ibnu Batutah, yang singgah di Pasai selama 15 hari, menggambarkan Kesultanan Samudera Pasai sebagai “sebuah negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah.‘‘ Ibnu Batutah menceritakan, ketika sampai di negeri Cina, ia melihat kapal Sultan Pasai di negeri itu. Memang, sumber-sumber Cina ada yang menyebutkan bahwa utusan Pasai secara rutin datang ke Cina untuk menyerahkan upeti.
Catatan pada Dinasti Mongol di Cina menunjukkan beberapa kerajaan di Sumatra, termasuk Kerajaan Samudera/Pasai, sempat menjalin relasi dengan Kerajaan Mongol yang berada di bawah komando Kubhilai Khan. Kerajaan Samudera/Pasai mulai mengadakan hubungan dengan Dinasti Mongol pada 1282. Kerajaan Samudera/Pasai menjalin hubungan dengan imperium besar di Asia itu melalui perutusan Cina yang kembali dari India Selatan dan singgah di Samudera Pasai. Peristiwa ini dianggap sebagai permulaan kontak antara Samudera Pasai dengan Cina/Mongol (Muhammad Gade Ismail, 1997:23).
Papan Makam Sultan Pertama Samudera Pasai
Informasi lain juga menyebutkan bahwa Sultan Samudera Pasai pernah mengirimkan utusan ke Quilon, India Barat, pada 1282 M. Ini membuktikan bahwa Kesultanan Pasai memiliki relasi yang cukup luas dengan kerajaan-kerajaan lain di luar negeri. Selain itu, dalam catatan perjalanan berjudul Tuhfat Al-Nazha, Ibnu Batutah menuturkan, pada masa itu Pasai telah menjelma sebagai pusat studi Islam di Asia Tenggara.
Pencatat asal Portugis yang pernah menetap di Malaka pada kurun 1512-1515, Tomi Pires, menyebutkan bahwa Pasai adalah kota terpenting pada masanya untuk seluruh Sumatra, karena tidak ada tempat lain yang penting di pulau itu kecuali Pasai. Nama kota tersebut oleh sebagian orang disebut sebagai Samudera dan kemudian lekat dengan nama Samudera Pasai serta menjadi simbol untuk menyebut Pulau Sumatra. Kota Pasai, menurut catatan Tomi Pires, ditaksir berpenduduk tidak kurang dari 20.000 orang (Ismail, 1997:37).
Marco Polo melaporkan, pada 1267 Masehi telah berdiri kerajaan Islam pertama di kepulauan nusantara, yang tidak lain adalah Kesultanan Pasai. Marco Polo berkunjung ke Pasai pada masa pemerintahan Sultan Malik Al Salih, tepatnya tahun 1292 Masehi, ketika kerajaan ini belum lama berdiri namun sudah memperlihatkan potensi kemakmurannya. Marco Polo singgah ke Samudera Pasai dalam rangkaian perjalanannya dari Tiongkok ke Persia. Kala itu, Marco Polo ikut dalam rombongan dari Italia yang melawat ke Sumatra sepulang menghadiri undangan dari Kubilai Khan, Raja Mongol, yang juga menguasai wilayah Tiongkok. Marco Polo menyebutkan, penduduk di Pasai pada waktu itu masih banyak yang belum memeluk agama (Islam), namun komunitas orang-orang Arab —yang disebut Marco dengan nama Saraceen— sudah cukup banyak dan berperan penting dalam upaya mengislamkan penduduk Aceh. Marco Polo menyebut kawasan yang disinggahinya itu dengan nama “Giava Minor” atau “Jawa Minor” (H. Mohammad Said, 1963:82-83).    
Selain sumber-sumber tertulis dan catatan perjalanan dari kaum pengelana, keterangan lain yang setidaknya dapat sedikit membantu dalam menguak riwayat Kesultanan Samudera Pasai diperoleh dari sisa-sisa peradaban yang ditinggalkan, seperti makam-makam kuno yang dibuat dari batu granit atau pualam dan mata uang—bernama Deureuham atau Dirham— yang ditemukan di Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Nanggroe Aceh Darussalam. Waktu wafatnya Sultan Malik As Salih, pendiri Kesultanan Samudera Pasai, sendiri dapat diketahui dari tulisan yang tertera pada sebuah nisan yang ditemukan di Blang Me, yakni tahun 697 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1297 Masehi. Sedangkan kapan Malik Al Salih dilahirkan belum ditemukan keterangan yang lebih jelas.
Mata Uang yang Berlaku di Samudera Pasai
Sumber-sumber tentang asal-muasal Kesultanan Samudera Pasai versi sarjana-sarjana Barat yang dirumuskan pada era pemerintahan kolonial Hindia Belanda ternyata berbeda dengan apa yang diyakini tokoh-tokoh sejarawan dan cendekiawan nasional pada masa setelah Indonesia merdeka. Dalam “Seminar Sejarah Nasional” yang diselenggarakan di Medan, Sumatra Utara, tanggal 17-20 Maret 1963, maupun dalam seminar "Masuk dan Berkembangnya Islam di Daerah Istimewa Aceh", yang digelar pada 10-16 Juli 1978 di Banda Aceh,  yang antara lain dihadiri oleh Prof Hamka, Prof A. Hasjmy, Prof H. Aboe Bakar Atjeh, H. Mohammad Said, dan M.D. Mansoer, telah dimunculkan perspektif yang berbeda dalam upaya menelisik riwayat berdirinya Kesultanan Samudera Pasai.  
Berdasarkan sejumlah petunjuk dan sumber-sumber yang lebih baru, di antaranya dari keterangan-keterangan para musafir Arab tentang Asia Tenggara serta dua naskah lokal yang ditemukan di Aceh yakni "Idhahul Hak Fi Mamlakatil Peureula" karya Abu Ishaq Al Makarany dan "Tawarich Raja-Raja Kerajaan Aceh", para pakar sejarah nasional berkesimpulan bahwa Kerajaan Islam Samudera Pasai sudah berdiri sejak abad ke-11, atau tepatnya tahun 433 Hijriah alias tahun 1042 dalam penanggalan Masehi (Sufi & Wibowo, 2005:52).
Mengenai lokasi berdirinya Kesultanan Samudera Pasai, telah dilakukan juga usaha-usaha penelitian dan penyelidikan, salah satunya upaya penggalian yang dikerjakan oleh Dinas Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dari upaya penyelidikan ini diketahui bahwa lokasi Kesultanan Samudera Pasai terletak di daerah bernama Pasai, yakni yang sekarang berada di wilayah Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Menurut G.P. Rouffaer, salah seorang sarjana Belanda yang serius menyelidiki tentang sejarah Kesultanan Samudera Pasai, mengatakan bahwa letak Pasai mula-mula berada di sebelah kanan Sungai Pasai, sementara Samudera terletak di sisi kiri sungai. Namun, lama-kelamaan, kedua tempat ini terhimpun menjadi satu dan kemudian dijadikan tempat berdirinya sebuah kerajaan besar, yakni Kesultanan Samudera Pasai (T. Ibrahim Alfian, 1973:21).
b. Samudera, Pasai, dan Pengaruh Mesir
Terdapat beberapa pendapat berbeda yang merumuskan serta menafsirkan tentang asal muasal berdirinya Kesultanan Samudera Pasai. Salah satunya adalah pendapat yang mengatakan bahwa Kesultanan Samudera Pasai merupakan kelanjutan dari riwayat kerajaan-kerajaan pra Islam yang telah eksis sebelumnya. Dalam buku berjudul “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara”, Slamet Muljana menulis bahwa Nazimuddin Al Kamil, Laksamana Laut dari Dinasti Fathimiah di Mesir, berhasil menaklukkan sejumlah kerajaan Hindu/Buddha yang terdapat di Aceh dan berhasil menguasai daerah subur yang dikenal dengan nama Pasai. Nazimuddin Al-Kamil kemudian mendirikan sebuah kerajaan di muara Sungai Pasai itu pada 1128 Masehi dengan nama Kerajaan Pasai. Alasan Dinasti Fathimiah mendirikan pemerintahan di Pasai didasarkan atas keinginan untuk menguasai perdagangan di wilayah pantai timur Sumatra yang memang sangat ramai.
Untuk memuluskan ambisi itu, Dinasti Fathimiah mengerahkan armada perangnya demi merebut Kota Kambayat di Gujarat, membuka kota pelabuhan di Pasai, dan menyerang daerah penghasil lada yakni Kampar Kanan dan Kampar Kiri di Minangkabau. Dalam ekspedisi militer untuk merebut daerah di Minangkabau itu, Nazimuddin Al-Kamil gugur dan jenazahnya dikuburkan di Bangkinang, di tepi Sungai Kampar Kanan pada 1128 itu juga (Muljana, 2005:133). Pada 1168, Dinasti Fathimiah, yang berdiri sejak tahun 976 Masehi, dikalahkan oleh tentara Salahuddin yang menganut madzhab Syafi‘i. Dengan runtuhnya Dinasti Fathimiah, maka hubungan Pasai dengan Mesir otomatis terputus.
Dalam sumber yang sama disebutkan bahwa penerus Nazimuddin Al-Kamil sebagai penguasa Kerajaan Samudera adalah Laksamana Kafrawi Al-Kamil, namun pada 1204 Masehi kekuasaan Kerajaan Pasai jatuh ke tangan Laksamana Johan Jani dari Pulau We. Di bawah kendali Laksamana Johan Jani yang merupakan peranakan India-Parsi, Kerajaan Pasai bertambah kuat dan sempat menjelma menjadi negara maritim yang paling kuat di Nusantara (Muljana, 2005:114).
Di Mesir, muncul dinasti baru untuk menggantikan Dinasti Fathimiah. Dinasti baru itu adalah Dinasti Mamaluk yang hidup dalam rentang waktu dari tahun 1285 sampai dengan 1522. Seperti halnya pendahulunya, Dinasti Mamaluk juga ingin menguasai perdagangan di Pasai. Pada tahun-tahun awal berdirinya, Dinasti Mamaluk mengirim utusan ke Pasai, yakni seorang pendakwah yang lama belajar agama Islam di tanah suci Mekkah bernama Syaikh Ismail dan Fakir Muhammad, bekas ulama dari Pantai Barat India.
Di Pasai, kedua utusan ini bertemu dengan Marah Silu yang kala itu menjadi anggota angkatan perang Kerajaan Pasai. Syaikh Ismail dan Fakir Muhammad berhasil membujuk Marah Silu untuk memeluk agama Islam. Selanjutnya, dengan bantuan Dinasti Mamaluk di Mesir, mereka mendirikan Kerajaan Samudera sebagai tandingan bagi Kerajaan Pasai. Marah Silu ditabalkan menjadi Sultan Kerajaan Samudera. Baik Kerajaan Samudera maupun Kerajaan Pasai, keduanya berada di muara Sungai Pasai dan menghadap ke arah Selat Malaka.
c. Riwayat Samudera Pasai dalam Hikayat
Versi lain tentang riwayat muncul dan berkembangnya Kesultanan Samudera Pasai diperoleh dari sejumlah hikayat yang mengisahkan eksistensi kerajaan ini, terutama dalam Hikayat Raja Pasai.Menurut pengisahan yang terdapat dalam Hikayat Raja Pasai, kerajaan yang dipimpin oleh Sultan Malik Al Salih mula-mula bernama Kerajaan Samudera. Adapun Kerajaan Pasai adalah satu pemerintahan baru yang menyusul kemudian dan mengiringi eksistensi Kerajaan Samudera. Asal mula pemberian nama kedua kerajaan ini terdapat cerita yang melatarbelakanginya.
Dalam Hikayat Raja Pasai dikisahkan, munculnya nama Kerajaan Samudera bermula ketika Marah Silu sedang berjalan-jalan bersama anjing kesayangannya yang bernama Pasai. Ketika mereka tiba di suatu tanah tinggi, anjing milik Marah Silu tiba-tiba menyalak keras karena bertemu dengan seekor semut merah yang berukuran besar. Marah Silu kemudian menangkap semut raksasa tersebut dan lantas memakannya. Dari sini timbul ilhamnya untuk menamakan kerajaan yang baru didirikannya dengan nama Kerajaan Samudera yang dalam bahasa asalnya bisa diartikan sebagai “semut merah yang besar”.
Salinan Halaman Pertama Hikayat Raja Pasai
Sedangkan mengenai asal mula Kerajaan Pasai, hikayat yang sama mencatat, pada suatu hari, Marah Silu yang kala itu sudah bergelar Sultan Malik Al Salih setelah memimpin Kerajaan Samudera, bersama para pengawalnya sedang melakukan kegiatan perburuan di mana anjing sultan yang bernama Pasai itu pun ikut serta. Terjadi suatu kejadian yang aneh ketika Pasai dilepaskan ke dalam hutan dan bertemu dengan seekor pelanduk, kedua binatang berbeda spesies itu saling bercakap-cakap dengan akrabnya. Ketika Sultan Malik Al Salih hendak menangkapnya, pelanduk tersebut lari ke pelukan anjing Sultan yang bernama Pasai itu. Dalam keheranannya, Sultan Malik Al Salih kemudian berpikiran untuk membangun sebuah negeri di tempat itu.
Setelah negeri tersebut berdiri, oleh Sultan Malik Al Salih diberi nama Pasai, seperti nama anjing kesayangannya yang menjadi inspirasi dibangunnya negeri baru tersebut. Anjing itu sendiri kemudian mati di negeri baru tersebut. Sebagai wakil Sultan Malik Al Salih yang tetap bersemayam di Kerajaan Samudera, maka dititahkanlah putra Sultan yang bernama Muhammad Malikul Zahir untuk memimpin Kerajaan Pasai (Russel Jones [ed.], 1999:23).
Meskipun cukup banyak peneliti yang menyandarkan Hikayat Raja Pasai sebagai landasan sumber informasi untuk menguak sejarah dan asal-usul Kesultanan Samudera Pasai, namun tidak sedikit pula yang meragukan kebenarannya. Hal ini disebabkan karena hikayat bukanlah suatu rangkaian catatan sejarah murni, melainkan banyak yang disisipi dengan cerita-cerita yang belum tentu benar-benar terjadi, malah tidak jarang kisah-kisah itu berupa mitos yang sukar diterima logika, sebagai legitimasi pemerintahan kerajaan yang ada pada masa itu.
Keraguan atas kebenaran yang terdapat dalam Hikayat Raja Pasai tersebut antara lain seperti yang dikemukakan oleh A.D. Hill yang menyatakan bahwa dari teks Hikayat Raja Pasai ternyata hanya sepertiga bagian awal saja. Demikian pula dengan Teuku Ibrahim Alfian yang karena kecewa terhadapHikayat Raja Pasai dalam menyebutkan data sejarah, maka ia terpaksa mengambil informasi dari sumber-sumber lain. Bahkan, Snouck Hugronje pernah menyebut bahwa Hikayat Raja Pasai adalah “a chlidren fairy story”. Pernyataan pedas Hugronje ini tampaknya merupakan suatu puncak kefatalanHikayat Raja Pasai sebagai sumber informasi terhadap sejarah. Data tersebut menujukkan bahwa selama ini karya-karya tulis tersebut telah dilihat dalam dimensi pragmatis lewat kajian historis atau pun filologis (Siti Chamamah Soeratno, 2002:36).
d. Perjalanan Eksistensi Samudera Pasai
Sebelum memeluk agama Islam, nama asli Malik Al Salih adalah Marah Silu atau Meurah Silo. “Meurah” adalah panggilan kehormatan untuk orang yang ditinggikan derajatnya, sementara “Silo” dapat dimaknai sebagai silau atau gemerlap. Marah Silu adalah keturunan dari Suku Imam Empat atau yang sering disebut dengan Sukee Imuem Peuet, yakni sebutan untuk keturunan empat Maharaja/Meurah bersaudara yang berasal dari Mon Khmer (Champa) yang merupakan pendiri pertama kerajaan-kerajaan di Aceh sebelum masuk dan berkembangnya agama Islam.
Leluhur yang mendirikan kerajaan-kerajaan Hindu/Buddha di Aceh tersebut di antaranya adalah Maharaja Syahir Po-He-La yang membangun Kerajaan Peureulak (Po-He-La) di Aceh Timur, Syahir Tanwi yang mengibarkan bendera Kerajaan Jeumpa (Champa) di Peusangan (Bireuen), Syahir Poli (Pau-Ling) yang menegakkan panji-panji Kerajaan Sama Indra di Pidie, serta Syahir Nuwi sebagai pencetus berdirinya Kerajaan Indra Purba di Banda Aceh dan Aceh Besar.
Dalam Hikayat Raja Pasai diceritakan bahwa Marah Silu berayahkan Marah Gadjah dan ibunya adalah Putri Betung. Marah Silu memiliki seorang saudara laki-laki bernama Marah Sum. Sepeninggal orang tuanya, dua bersaudara ini meninggalkan kediamannya dan mulai hidup mengembara. Marah Sum kemudian menjadi penguasa di wilayah Bieruen, sedangkan Marah Silu membuka tanah di hulu Sungai Peusangan yang terletak tidak jauh dari muara Sungai Pasai hingga akhirnya ia menjadi pemegang tahta Kerajaan Samudera.
Batu Nisan Marah Silu atau Sultan Malik Al Salih
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Marah Silu alias Sultan Malik Al Salih memeluk Islam atas bujukan utusan Dinasti Mamaluk dari Mesir, yakni Syaikh Ismail dan Fakir Muhammad. Keislaman Marah Silu ditegaskan kembali dalam Hikayat Raja Pasai dengan memberikan catatan bahwa Nabi Muhammad telah menyebutkan nama Kerajaan Samudera dan juga agar penduduk di kerajaan tersebut diislamkan oleh salah seorang sahabat Nabi, dalam hal ini yang dimaksud adalah Syaikh Ismail. Dengan adanya catatan dari hikayat ini, bukan tidak mungkin ajaran agama Islam sudah masuk ke wilayah Aceh tidak lama setelah Nabi Muhammad wafat, yakni pada sekitar abad pertama tahun Hijriah, atau sekitar abad ke-7 atau ke-8 tahun Masehi. Dapat diperkirakan pula bahwa agama Islam yang masuk ke Aceh dibawa langsung dari Mekkah (Sufi & Wibowo, 2005:58-59).
Data-data tentang Islam di Pasai menurut Hikayat Raja Pasai menunjukkan bahwa Pasai adalah tempat pertama kali yang diislamkan. Tampaknya, demikian seperti yang ditulis dalam Hikayat Raja Pasai, Nabi Muhammad (Rasulullah) pulalah yang membawa Islam ke Samudera/Pasai, ialah dalam tatap muka di kala tidur antara Marah Silu dengan Rasulullah. Nabi Muhammad pula yang mensyahdatkan dan membuat Marah Silu dapat membaca Alquran sebanyak 30 juz, yakni sesudah Rasulullah meludahi mulut Marah Silu. Rasulullah pula yang membuat Marah Silu telah berkhitan. Islamisasi lewat peran langsung Rasulullah kiranya menunjukkan proses yang esensial bagi Pasai. Dalam proses inilah Marah Silu tinggal dinobatkan sehingga proses Islamisasi dapat berjalan dengan lancar (Chamamah, 2002:40).
Ketika Malik Al Salih dinobatkan sebagai Sultan Kerajaan Samudera pertama, upacara penobatan dilakukan dengan gaya Arab di mana Malik Al Salih dinobatkan dengan mengenakan pakaian kerajaan anugerah dari Mekkah. Ini berarti, penobatan dilakukan secara Arab, bukan dengan cara India. Artinya lagi, Malik Al Salih kemungkinan besar sudah memeluk agama Islam pada saat dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Samudera. Setelah upacara penobatan, sekalian hulubalang dan rakyat serta-merta menjunjung dan menyembah sultan baru mereka dengan menyerukan: “Daulat Dirgahayu Syah Alam Zilluilahi fil-alam”. Penyebutan gelar kehormatan kepada raja tersebut juga sangat lekat dengan nama Arab.
Dalam rangkaian upacara yang sama, juga telah ditetapkan dua Orang Besar, sebagai penasehat Sultan, yakni Tun Sri Kaya dan Tun Sri Baba Kaya. Aroma Islam semakin terasa ketika kedua Orang Besar ini kemudian diberi gelar berkesan Arab, masing-masing dengan nama Sayid Ali Khiatuddin untuk Tun Sri Kaya dan Sayid Asmayuddin untuk Tun Sri Baba Kaya (Said, 1963:85).
Sultan Malik Al Salih menikah dengan Putri Ganggang Sari, keturunan Sultan Aladdin Muhammad Amin bin Abdul Kadi dari Kerajaan Perlak. Dari perkawinan ini, Sultan Malik Al Salih dikaruniai dua orang putra, yaitu Muhammad dan Abdullah. Kelak, Muhammad dipercaya untuk memimpin Kerajaan Pasai, bergelar Sultan Muhammad Malikul Zahir (Sultan Malik Al Tahir), berdampingan dengan ayahandanya yang masih tegap memimpin Kerajaan Samudera. Putra kedua Sultan Malik Al Salih, Abdullah, memilih keluar dari keluarga besar Kerajaan Samudera dan Pasai, dengan mendirikan pemerintahan sendiri Kesultanan Aru Barumun pada 1295.
Di bawah pimpinan Sultan Muhammad Malikul Zahir, Kerajaan Pasai mengalami masa kejayaan. Ibnu Batutah merekam masa-masa keemasan yang dicapai Kerajaan Pasai pada era pemerintahan Sultan Muhammad Malikul Zahir ini. Ibnu Batutah mencatat bahwa tanah-tanah di wilayah Kerajaan Pasai begitu subur. Aktivitas perdagangan dan bisnis di kerajaan itu sudah cukup maju, dibuktikan dengan sudah digunakannya mata uang, termasuk mata uang yang terbuat dari emas, sebagai alat transaksi dalam kehidupan ekonomi warga Kerajaan Pasai. Selain menjalin kongsi dengan negara-negara dari luar Nusantara, hubungan dagang dengan pedagang-pedagang dari Pulau Jawa pun begitu baik. Bahkan, para saudagar Jawa mendapat perlakuan yang istimewa karena mereka tidak dipungut pajak. Biasanya, kaum pedagang dari Jawa menukar beras dengan lada.
Makam Sultan Muhammad Malikul Zahir
Ibnu Batutah mengisahkan, setelah berlayar selama 25 hari dari Barhnakar (sekarang masuk wilayah Myanmar), ia mendarat di sebuah tempat yang sangat subur. Ibnu Batutah tidak bisa menutupi rasa kagumnya begitu berkeliling kota pusat Kerajaan Pasai. Ia begitu takjub melihat sebuah kota besar yang sangat elok dengan dikelilingi dinding yang megah. Ibnu Batutah mencatat bahwa ia harus berjalan sekitar empat mil dengan naik kuda dari pelabuhan yang disebutnya Sahra untuk sampai ke pusat kota. Pusat pemerintahan kota itu cukup besar dan indah serta dilengkapi dengan menara-menari yang terbuat dari kayu-kayuan kokoh. Di pusat kota ini, tulis Ibnu Batutah, terdapat tempat tinggal para penguasa dan bangsawan kerajaan. Bangunan yang terpenting ialah Istana Sultan dan masjid (Ismail, 1997:37).
Di dalam pagar yang mengelilingi kota, terdapat tempat tinggal para penguasa dan bangsawan kerajaan yang dilindungi oleh rakyat di luar pagar. Semua kehidupan komersial di kota, para pendatang baru dari desa, orang-orang asing, para pengrajin, dan segala aktivitas urban lainnya ditempatkan di luar pagar di sekeliling pusat kota. Orang-orang asing seringkali tidak diizinkan menetap dalam jarak tertentu dari Istana Sultan, bahkan adakalanya mereka harus tinggal di luar kota.
Apabila penjelasan dari Ibnu Batutah ini dianggap benar, maka dapatlah dikatakan bahwa Kota Pasai sebagai pusat pemerintahan sultan-sultan yang berkuasa di Pasai, pada tengah-tengah areal terdapat suatu daerah inti yang ditempati oleh Istana Sultan. Istana tersebut memiliki pagar yang berfungsi sebagai batas yang membedakan kawasan Istana Sultan dengan kawasan pasar di mana aktivitas perdagangan dan kegiatan lainnya berlangsung.
Masih menurut catatan Ibnu Batutah, Sultan Muhammad Malikul Zahir merupakan sosok pemimpin yang memiliki gairah belajar yang tinggi dalam menuntut ilmu-ilmu Islam. Batutah juga mencatat, pusat studi Islam yang dibangun di lingkungan kerajaan menjadi tempat diskusi antara ulama dan elit kerajaan. Ibnu Batutah bahkan memasukkan nama Sultan Muhammad Malikul Zahir sebagai salah satu dari tujuh raja di dunia yang memiliki kelebihan luar biasa. Ketujuh raja yang memiliki kemampuan luar biasa menurut Ibnu Batutah antara lain Raja Melayu Sultan Muhammad Malikul Zahir yang dinilainya berilmu pengetahuan luas dan mendalam, Raja Romawi yang sangat pemaaf, Raja Iraq yang berbudi bahasa, Raja Hindustani yang sangat ramah, Raja Yaman yang berakhlak mulia, Raja Turki yang gagah perkasa, serta Raja Turkistan yang bijaksana.
Kesan Ibnu Batutah terhadap sosok Sultan Muhammad Malikul Zahir memang begitu mendalam. Sebagai raja, Sultan Muhammad Malikul Zahir merupakan orang yang sangat saleh, pemurah, rendah hati, dan mempunyai perhatian terhadap fakir miskin. Meskipun ia telah menaklukkan banyak kerajaan, Sultan Muhammad Malikul Zahir tidak pernah bersikap jumawa. Sultan ini, kata Batutah, adalah seorang pemimpin yang sangat mengedepankan hukum Islam. “Pribadinya sangat rendah hati. Ia berangkat ke masjid untuk shalat Jumat dengan berjalan kaki. Selesai shalat, Sultan dan rombongan biasa berkeliling kota untuk melihat keadaan rakyatnya,” begitu Ibnu Batutah menggambarkan sosok Sultan Muhammad Malikul Zahir. Kerendahan hati sang Sultan tersebut salah satunya ditunjukkan saat menyambut rombongan Ibnu Batutah (Republika, 21 Mei 2008).
Di masa keemasannya, Kerajaan Pasai dan Kerajaan Samudera menjelma menjadi pusat perdagangan internasional. Kerajaan pelabuhan Islam itu begitu ramai dikunjungi para pedagang dan saudagar dari berbagai benua seperti, Asia, Afrika, Cina, dan Eropa. Wilayah di mana Kerajaan Samudera dan Pasai berdiri, yakni di kawasan Selat Malaka, memang merupakan bandar niaga yang sangat strategis. Pada saat itu, kawasan Selat Malaka merupakan jalur perdagangan laut yang sering menjadi lokasi transaksi dan disinggahi para saudagar dari berbagai penjuru bumi, seperti dari Siam (Thailand), Cina, India, Arab, hingga Persia (Iran).
Kedudukan Pasai (Pacém) dalam Peta Perdagangan di Asia
Di samping sebagai pusat perdagangan, Kesultanan Samudera Pasai juga merupakan pusat perkembangan agama Islam dan muncul sebagai pemerintahan pertama di Nusantara yang menganut ajaran Islam. Kejayaan Kesultanan Samudera dan Kesultanan Pasai yang berlokasi di daerah Samudera Geudong, Aceh Utara, diawali dengan penyatuan sejumlah kerajaan kecil di daerah Perlak, seperti Rimba Jreum dan Seumerlang. Dalam kurun abad ke-13 hingga awal abad ke-16, Pasai merupakan wilayah penghasil rempah-rempah terkemuka di dunia, dengan lada sebagai salah satu komoditas andalannya. Setiap tahunnya, Pasai mampu mengekspor lada dengan produksi yang cukup besar. Tak cuma itu, Pasai pun merupakan produsen komoditas lainnya seperti sutra, kapur barus, dan emas.
Sultan Muhammad Malikul Zahir mempunyai dua orang putra, yaitu Malikul Mahmud dan Malikul Mansur. Ketika Sultan Muhammad Malikul Zahir pada akhirnya meninggal dunia karena sakit, tampuk kepemimpinan Kerajaan Pasai untuk sementara diserahkan Sultan Malik Al Salih, yang juga memimpin Kerajaan Samudera, karena kedua putra Sultan Muhammad Malikul Zahir masih berusia sangat belia. Oleh Sultan Malik Al Salih, kedua cucunya itu diserahkan kepada tokoh-tokoh yang piawai supaya mereka dapat dengan baik memimpin kerajaan pada suatu saat nanti. Malikul Mahmud diserahkan kepada Sayid Ali Ghiatuddin, sementara Malikul Mansur dididik oleh Sayid Semayamuddin.
Ketika kedua pangeran ini beranjak dewasa dan dirasa sudah siap memimpin pemerintahan, maka Sultan Malik Al Salih pun mengundurkan diri dari singgasananya yang meliputi dua kerajaan, yakni Kerajaan Samudera dan Kerajaan Pasai. Sebagai gantinya, sesuai dengan kesepakatan Orang-Orang Besar, diangkatlah Malikul Mahmud menjadi Sultan Kerajaan Pasai, sementara Malikul Mansur sebagai Sultan Kerajaan Samudera. Namun, keharmonisan kedua sultan kakak-beradik ini tidak berlangsung lama karena terjadi perseteruan di antara mereka. Penyebabnya adalah ulah Sultan Mansur yang ternyata menggilai salah seorang istri Sultan Mahmud yang tidak lain adalah abang kandungnya sendiri. Pada akhirnya, Sultan Mansur ditangkap dan diusir dari kerajaannya hingga kemudian meninggal dunia dalam perjalanan. Jadilah Sultan Malikul Mahmud menguasai singgasana Kerajaan Samudera dan Kerajaan Pasai hingga digabungkanlah kedua kerajaan itu menjadi Kesultanan Samudera Pasai.
Sejak tahun 1346, kepemimpinan Kesultanan Samudera Pasai di bawah rezim Sultan Malikul Mahmud digantikan oleh anaknya yang bernama Ahmad Permadala Permala. Setelah dinobatkan sebagai penguasa Kesultanan Samudera Pasai, ia kemudian dianugerahi gelar kehormatan dengan nama Sultan Ahmad Malik Az-Zahir. Dalam Hikayat Raja Pasai dikisahkan, Sultan Ahmad Malik Az-Zahir dikaruniai lima orang anak, tiga orang di antaranya laki-laki sementara dua sisanya adalah anak perempuan. Tiga putra Sultan Ahmad Malik Az-Zahir masing-masing bernama Tun Beraim Bapa, Tun Abdul Jalil, serta Tun Abdul Fadil. Sedangkan dua anak perempuannya diberi nama Tun Medam Peria dan Tun Takiah Dara.
Sempat terjadi hal yang sungguh memalukan dalam perjalanan kepemimpinan Sultan Ahmad Malik Az-Zahir yang pada akhirnya memang lekat dengan citra sebagai pemimpin yang buruk. Menurut Hikayat Raja Pasai, Sang Sultan ternyata menaruh berahi terhadap kedua anak perempuannya sendiri, yaitu Tun Medan Peria dan Tun Takiah Dara. Sikap yang keterlaluan dari Sultan Ahmad Malik Az-Zahir ini tentu saja menimbulkan kemurkaan dari banyak pihak, termasuk Tun Beraim Bapa yang tidak lain adalah putra sulung Sultan Ahmad Malik Az-Zahir.
Tun Beraim Bapa sekuat tenaga melindungi kedua saudara perempuannya dari kebuasan Sultan Ahmad Malik Az-Zahir dengan melarikan mereka untuk diamankan di suatu tempat. Merasa ditentang oleh anaknya sendiri, Sultan Ahmad Malik Az-Zahir naik pitam dan kemudian memerintahkan pengawalnya untuk membunuh Tun Beraim Bapa. Pangeran yang seharusnya menjadi putra mahkota ini akhirnya tewas setelah memakan racun yang diberikan utusan sang ayah (Jones [ed.], 1999:35-56). Tidak lama kemudian, kedua saudara perempuan Tun Beraim Bapa pun menyusul abangnya dengan memakan racun yang sama.
Keganasan Sultan Ahmad Malik Az-Zahir belum berhenti sampai di situ. Sang Sultan kembali berulah biadab ketika mendengar kabar bahwa ada seorang putri dari Kerajaan Majapahit, Radin Galuh Gemerencang, jatuh cinta kepada putra kedua Sultan Ahmad Malik Az-Zahir, yakni Tun Abdul Jalil. Sultan Ahmad Malik Az-Zahir merasa terhina karena ia sendiri juga menaruh hati pada kecantikan putri Raja Majapahit tersebut. Maka kemudian, seperti yang termaktub dalam Hikayat Raja Pasai, Sultan Ahmad Malik Az-Zahir kembali memberikan mandat kepada anak buahnya untuk menghabisi nyawa Tun Abdul Jalil dan ketika rencana itu berhasil, mayat Tun Abdul Jalil ditenggelamkan ke laut. Sementara itu, oleh sebab rasa cinta yang tidak tertahankan, Radin Galuh Gemerencang bertekad pergi ke Pasai bersama para pengawalnya untuk menemui Tun Abdul Jalil.
Sesampainya di Pasai, rombongan dari Majapahit itu mendapat kabar bahwa pujaan hati Radin Galuh Gemerencang sudah tewas, dibunuh oleh ayahnya sendiri. Sang Putri tidak kuasa menahan sedih dan kemudian menenggelamkan diri ke dalam laut di mana jenazah Tun Abdul Jalil telah dibenamkan sebelumnya. Sisa rombongan pengawal yang mengiringi Radin Galuh Gemerencang segera kembali ke Jawa dan melapor kepada Raja Majapahit tentang kejadian tragis tersebut.
Sang Raja tentu saja murka mendengar kematian putrinya serta kebiadaban Sultan Pasai itu, dan kemudian segera menitahkan kepada bala tentara Majapahit untuk bersiap menyerang Kerajaan Pasai. Meski sempat memberikan perlawanan, ternyata armada perang Kerajaan Majapahit lebih unggul dan berhasil menduduki Pasai. Karena semakin terdesak, Sultan Ahmad Malik Az-Zahir melarikan diri ke suatu tempat bernama Menduga, yang terletak kira-kira lima belas hari perjalanan dari Negeri Pasai.
Sementara itu, seusai meraih kemenangan gemilang dengan menaklukkan Pasai, pasukan perang Majapahit mulai bersiap untuk kembali ke Jawa setelah sebelumnya mengambil harta rampasan dan tawanan perang dari Pasai. Dalam perjalanan menuju Jawa, laskar tentara Majapahit terlebih dahulu singgah di Palembang dan Jambi untuk menaklukkan kedua negeri itu, sekaligus membawa barang jarahan yang semakin banyak. Demikianlah kisah penaklukan oleh Kerajaan Majapahit terhadap Kerajaan Pasai seperti yang dikisahkan dalam kitab Hikayat Raja Pasai (Jones [ed.], 1999:57-65).
Dalam silsilah para penguasa yang memimpin Kesultanan Samudera Pasai, ternyata terdapat sultan perempuan yang pernah bertahta di kerajaan besar tersebut. Sultanah Nahrasiyah (Nahrisyyah) Malikul Zahir bertahta dari tahun 1420 hingga 1428 atau kurang lebih delapan tahun lamanya. Sultanah Nahrasiyah memiliki penasehat bernama Ariya Bakooy dengan gelar Maharaja Bakooy Ahmad Permala. Ariya Bakooy sebenarnya merupakan sosok kontroversial. Ia pernah diperingatkan kaum ulama agar tidak mengawini puterinya sendiri namun peringatan itu ditentangnya. Bahkan, Ariya Bakooy kemudian malah membunuh 40 ulama. Ariya Bakooy akhirnya tewas di tangan Malik Musthofa yang bergelar Pocut Cindan Simpul Alam, yang tidak lain adalah suami Sultanah Nahrasiyah, dengan bantuan Sultan Mahmud Alaiddin Johan Syah dari Kerajaan Aceh Darussalam (1409-1465).
Sultanah Nahrasiyah merupakan seorang perempuan muslimah yang berjiwa besar. Hal ini dibuktikan dengan hiasan makamnya yang sangat istimewa. Pada nisannya, tertulis nukilan huruf Arab terjemahannya berbunyi: ”Inilah kubur wanita yang bercahaya yang suci ratu yang terhormat, almarhum yang diampunkan dosanya, Nahrasiyah, putri Sultan Zainal Abidin, putra Sultan Ahmad, putra Sultan Muhammad, putra Sultan Mailkus Salih. Kepada mereka itu dicurahkan rahmat dan diampunkan dosanya. Mangkat dengan rahmat Allah pada hari Senin, 17 Zulhijjah 832.” (Pocut Haslinda Hamid Azwar, www.modusaceh-news.com, 2009).
Pemugaran Kompleks Makam Sultanah Nahrasiyah (Nahrisyyah)
e. Keruntuhan dan Peninggalan Peradaban Samudera Pasai
Kejayaan Kesultanan Samudera Pasai mulai mengalami ancaman dari peradaban terbesar di Jawa waktu itu, yakni dari Kerajaan Majapahit dengan Gadjah Mada sebagai mahapatihnya yang paling legendaris. Gadjah Mada diangkat sebagai patih di Kahuripan pada periode 1319-1321 Masehi oleh Raja Majapahit yang kala itu dijabat oleh Jayanegara. Pada 1331, Gadjah Mada naik pangkat menjadi Mahapatih ketika Majapahit dipimpin oleh Ratu Tribuana Tunggadewi. Ketika pelantikan Gadjah Mada menjadi Mahapatih Majapahit inilah keluar ucapannya yang disebut dengan Sumpah Palapa, yaitu bahwa Gadjah Mada tidak akan menikmati buah palapa sebelum seluruh Nusantara berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Mahapatih Gadjah Mada rupanya sedikit terusik mendengar kabar tentang kebesaran Kesultanan Samudera Pasai di seberang lautan sana. Majapahit khawatir akan pesatnya kemajuan Kesultanan Samudera Pasai. Oleh karena itu kemudian Gadjah Mada mempersiapkan rencana penyerangan Majapahit untuk menaklukkan Samudera Pasai. Desas-desus tentang serangan tentara Majapahit, yang menganut agama Hindu Syiwa, terhadap kerajaan Islam Samudera Pasai santer terdengar di kalangan rakyat di Aceh. Ekspedisi Pamalayu armada perang Kerajaan Majapahit di bawah komando Mahapatih Gadjah Mada memulai aksinya pada 1350 dengan beberapa tahapan.
Serangan awal yang dilakukan Majapahit di perbatasan Perlak mengalami kegagalan karena lokasi itu dikawal ketat oleh tentara Kesultanan Samudera Pasai. Namun, Gadjah Mada tidak membatalkan serangannya. Ia mundur ke laut dan mencari tempat lapang di pantai timur yang tidak terjaga. Di Sungai Gajah, Gadjah Mada mendaratkan pasukannya dan mendirikan benteng di atas bukit, yang hingga sekarang dikenal dengan nama Bukit Meutan atau Bukit Gadjah Mada (Muljana, 2005:140).
Selanjutnya, Gadjah Mada menjalankan siasat serangan dua jurusan, yaitu dari jurusan laut dan jurusan darat. Serangan lewat laut dilancarkan terhadap pesisir di Lhokseumawe dan Jambu Air. Sedangkan penyerbuan melalui jalan darat dilakukan lewat Paya Gajah yang terletak di antara Perlak dan Pedawa. Serangan dari darat tersebut ternyata mengalami kegagalan karena dihadang oleh tentara Kesultanan Samudera Pasai. Sementara serangan yang dilakukan lewat jalur laut justru dapat mencapai istana.
Wilayah Kekuasaan Imperium Majapahit, termasuk Samudera Pasai
Selain alasan faktor politis, serangan Majapahit ke Samudera Pasai dipicu juga karena faktor kepentingan ekonomi. Kemajuan perdagangan dan kemakmuran rakyat Kesultanan Samudera Pasai telah membuat Gadjah Mada berkeinginan untuk dapat menguasai kejayaan itu. Ekspansi Majapahit dalam rangka menguasai wilayah Samudera Pasai telah dilakukan berulangkali dan Kesultanan Samudera Pasai pun masih mampu bertahan sebelum akhirnya perlahan-lahan mulai surut seiring semakin menguatnya pengaruh Majapahit di Selat Malaka.
Hingga menjelang abad ke-16, Samudera Pasai masih dapat mempertahankan peranannya sebagai bandar yang mempunyai kegiatan perdagangan dengan luar negeri. Para ahli sejarah yang menumpahkan minatnya pada perkembangan ekonomi mencatat bahwa Pasai pernah menempati kedudukan sebagai sentrum kegiatan dagang internasional di nusantara semenjak peranan Kedah berhasil dipatahkan (Said, 1963:125).
Namun kemudian, peranan Pasai yang sebelumnya sangat penting dalam arus perdagangan di kawasan Asia Tenggara dan dunia mengalami kemerosotan dengan munculnya bandar perdagangan Malaka di Semenanjung Melayu (Ismail, 1997:24). Bandar Malaka segera menjadi primadona dalam bidang perdagangan dan mulai menggeser kedudukan Pasai. Tidak lama setelah Malaka dibangun, kota itu dalam waktu yang singkat segera dibanjiri perantau-perantau dari Jawa.
Akibat kemajuan pesat yang diperoleh Malaka tersebut, posisi dan peranan Pasai kian lama semakin tersudut, nyaris seluruh kegiatan perniagaannya menjadi kendor dan akhirnya benar-benar patah di tangan Malaka sejak tahun 1450. Apalagi ditambah kedatangan Portugis yang berambisi menguasai perdagangan di Semenanjung Melayu. Orang-orang Portugis yang pada 1521 berhasil menduduki Kesultanan Samudera Pasai (Rusdi Sufi, 2004:57)
Tidak hanya itu, Kesultanan Samudera Pasai semakin lemah ketika di Aceh berdiri satu lagi kerajaan yang mulai merintis menjadi sebuah peradaban yang besar dan maju. Pemerintahan baru tersebut yakni Kerajaan Aceh Darussalam yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Kesultanan Aceh Darussalam sendiri dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Aceh pada masa pra Islam, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura. Pada 1524, Kerajaan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah menyerang Kesultanan Samudera Pasai. Akibatnya, pamor kebesaran Kerajaan Samudera Pasai semakin meredup sebelum benar-benar runtuh. Sejak saat itu, Kesultanan Samudera Pasai berada di bawah kendali kuasa Kesultanan Aceh Darussalam.
Jejak-jejak peninggalan peradaban Kesultanan Samudera Pasai yang berhasil ditemukan, pada 1913 dan 1915 oleh seorang ilmuwan Belanda bernama J.J. de Vink, yang berinisiatif mengadakan inventarisasi di bekas peninggalan Samudera Pasai. Selanjutnya, pada 1937 telah dilakukan upaya pemugaran pada beberapa makam sultan-sultan Samudera Pasai oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Kemudian, tahun 1972, 1973, serta tahun 1976 peninggalan Kesultanan Samudera Pasai yang ditemukan di Kecamatan Samudera Geudong, Kabupaten Aceh Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, telah diinventarisasi oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Perkembangan terbaru, dalam tahun 2009 telah ditemukan beberapa peninggalan yang terkait dengan sejarah Kesultanan Samudera Pasai. Pada bulan Maret 2009, Tim Peneliti Sejarah Kebudayaan Islam memberitahukan bahwa mereka telah menemukan makam Al Wazir Al Afdal, yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Kesultanan Samudera Pasai. Makam itu berlokasi di Desa Teupin Ara, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Al Wazir Al Afdhal diketahui pernah menjabat sebagai perdana menteri pada masa pemerintahan rezim Samudera Pasai yang terakhir, Sultan Zain Al Abidin atau yang sering dikenal juga dengan nama Sultan Zainal Abidin, yang memerintah selama dua periode, yakni pada kurun 1477-1500 dan 1513-1524. Dari penemuan itu diperoleh keterangan bahwa Al Wazir Al Afdal wafat tanggal 7 bulan Zulkaedah tahun 923 H atau 1518 M. Di tahun yang sama, Sultan Zainal Abidin pun wafat. Pada nisan makam Al Wazir Al Afdal, terdapat syair yang menjelaskan tentang kezuhudan bahwa dunia ini fana, tak ubahnya seperti sarang yang dirajut laba-laba. Syair tersebut sama dengan yang tertulis pada makam Sultan Malik Al Salih yang mengungkapkan tenggelamnya peradaban Samudera Pasai (www.indowarta.com, 25 Maret 2009).
Pada kesempatan  yang sama, Tim Peneliti Sejarah Kebudayaan Islam juga menyatakan telah menemukan sebuah stempel atau cap yang diperkirakan berusia 683 tahun. Stempel kerajaan yang ditengarai milik Sultan Muhammad Malikul Zahir, sultan kedua Samudera Pasai, ini ditemukan tidak jauh dari makam Abdullah bin Muhammad, di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Abdullah bin Muhammad (wafat 816 H/1414 M) sendiri adalah salah seorang keturunan Khalifah Abbasiyah, Al-Mustanshir Billah, yang bergelar Shadr Al Akabir (pemuka para pembesar) di Kesultanan Samudera Pasai pada waktu itu.
Stempel yang ditemukan telah patah pada bagian gagangnya tersebut berukuran 2×1 centimeter, dan tampaknya terbuat dari bahan sejenis tanduk hewan. Dari lokasi ditemukannya di Kuta Krueng, diperkirakan cap ini telah digunakan sampai dengan masa pemerintahan pemimpin terakhir Samudera Pasai, Sultan Zainal Abidin (www.acehlong.com, 17 Maret 2009).
Selanjutnya, pada Juni 2009, tim peneliti dari Yayasan Waqaf Nurul Islam (YWNI) Lhokseumawe mengumumkan bahwa mereka telah menemukan makam yang diyakini sebagai tempat persemayaman terakhir Raja Kanayan, seorang panglima perang pada pemerintahan Sultan Zain Al-Abidin. Makam Raja Kanayan ditemukan di Desa Meunasah Ujoung Blang Me, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa Raja Kanayan wafat pada hari Jum‘at, tanggal 3 Sya‘ban 872 H atau 1468 Masehi. Dengan demikian, Raja Kanayan telah hidup pada masa pemerintahan beberapa rezim Kesultanan Samudera Pasai dan meninggal dunia pada masa Sultan Zainal Abidin.
Selain makam Raja Kanayan, ditemukan pula beberapa makam lainnya. Bahkan, tim peneliti memprediksi masih ada nisan-nisan lain yang amblas ke dalam tanah di kompleks makam yang terletak tidak jauh dari tepi Sungai Pasai sebelah timur itu. Makam-makam yang baru ditemukan tersebut belum tercatat dalam inventaris situs sejarah Dinas Kebudayaan (www.waspadaonline.com, 20 Juni 2009).
Terakhir, pada Agustus 2009, Lembaga Penelitian Sejarah Islam (LePSI) Lhokseumawe mengungkapkan bahwa mereka sedang mengkaji naskah surat Sultan Zainal Abidin, wafat tahun 923 Hijriah atau 1518 Masehi. Surat itu ditujukan kepada Kapitan Moran yang bertindak atas nama wakil Raja Portugis di India. Fotografi naskah tersebut dapat disaksikan di Museum Negeri Aceh, sementara naskah aslinya tersimpan di Lisabon, Portugal.
Naskah tersebut memberikan banyak informasi sejarah tentang ihwal Samudera Pasai di awal abad ke-16, terutama menyangkut kondisi terakhir yang dialami kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara ini, setelah Portugis berhasil menguasai Malaka pada 1511 Masehi. Naskah surat berbahasa Arab itu juga mencantumkan nama beberapa negeri atau kerajaan yang punya hubungan erat dengan Samudera Pasai sehingga dapat diketahui pengejaan asli dari nama-nama negeri atau kerajaan tersebut, antara lain Nergeri Fariyaman (Pariaman) dan Mulaqat (Malaka) (www.waspadaonline.com, 21 Agustus 2009).
2. Silsilah Raja-Raja
Berikut nama-nama sultan/sultanah yang diketahui pernah memimpin Kesultanan Samudera Pasai:
  1. Sultan Malik Al-Salih (1267—1297)
  2. Sultan Muhammad Malikul Zahir
  3. Sultan Malikul Mahmud
  4. Sultan Malikul Mansur
  5. Sultan Ahmad Malik Az-Zahir (1346—1383)
  6. Sultan Zain Al-Abidin Malik Az-Zahir (1383—1405)
  7. Sultanah Nahrasiyah atau Sultanah Nahrisyyah (1420—1428)     
  8. Sultan Sallah Ad-Din (1402)
  9. Sultan Abu Zaid Malik Az-Zahir 1455)
  10. Sultan Mahmud Malik Az-Zahir (1455—1477)
  11. Sultan Zain Al-Abidin (1477—1500)
  12. Sultan Abdullah Malik Az-Zahir (1501—1513)
  13. Sultan Zain Al-Abidin (1513—1524)
Silsilah Sultan/Sultanah Kesultanan Samudera Pasai Menurut Hikayat Raja Pasai.
Sultan Malik Al Salih memimpin Kesultanan Samudera, sementara putranya, Sultan Muhammad Malikul Zahir adalah penguasa Kesultanan Pasai. Ketika Sultan Muhammad Malikul Zahir wafat, pemerintahan Kesultanan Pasai dipegang oleh Sultan Malik Al Salih untuk sementara sembari menunggu kedua putra Sultan Muhammad Malikul Zahir, yakni Malikul Mahmud dan Malikul Mansur, beranjak dewasa. Setelah kedua putra Sultan Muhammad Malikul Zahir tersebut dinilai mampu untuk menjadi pemimpin, Sultan Malik Al Salih mengundurkan diri dari sebagai sultan dari kedua kerajaan yang dipimpinnya tersebut.
Selanjutnya, Sultan Malik Al Salih menyerahkan kendali pemerintahan kepada kedua cucunya tersebut, masing-masing Kesultanan Pasai kepada Malikul Mahmud serta Kesultanan Samudera kepada Malikul Mansur. Masa periode pemerintahan ketiga sultan, yaitu Sultan Muhammad Malikul Zahir, Sultan Malikul Mahmud, dan Sultan Malikul Mansur, sengaja tidak disebutkan karena masih terdapat beberapa kejanggalan mengenai hal tersebut, termasuk yang tercatat dalam Hikayat Raja Pasai.
Kesimpang-siuran mengenai periode pemerintahan masing-masing sultan/sultanah menjadi kendala tersendiri, dan karena itulah kurun tahun yang dicantumkan dalam daftar di atas merupakan interpretasi dari beberapa informasi yang berhasil ditemukan. Demikian pula dengan penyebutan nama atau gelar dari masing-masing sultan/sultanah yang ternyata ditemukan banyak sekali versinya. Selain itu, ketidaklengkapan informasi mengenai siapa saja sultan/sultanah yang pernah memerintah Kesultanan Samudera Pasai secara urut dan runtut juga menimbulkan permasalahan lain karena belum tentu apa yang ditulis dalam silsilah di atas mencatat semua penguasa yang pernah bertahta di Kesultanan Samudera Pasai.
3. Wilayah Kekuasaan
Pada kurun abad ke-14, nama Kesultanan Samudera Pasai sudah sangat terkenal dan berpengaruh serta memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas. Armada perang yang kuat sangat mendukung Kesultanan Samudera Pasai untuk semakin melebarkan sayap kekuasaannya, baik dengan tujuan menguasai dan menduduki wilayah kerajaan lain ataupun demi mengemban misi menyebarkan agama Islam. Wilayah kekuasaan Kesultanan Samudera Pasai pada masa kejayaannya terletak di daerah yang diapit oleh dua sungai besar di Pantai Utara Aceh, yaitu Sungai Peusangan dan Sungai Pasai. Daerah kekuasaan Kesultanan Samudera Pasai tersebut juga meliputi Samudera Geudong (Aceh Utara), Meulaboh, Bireuen, serta Rimba Jreum dan Seumerlang (Perlak).
Wilayah Kekuasaan Samudera Pasai
Sementara itu, ada pula yang menganut pendapat bahwa wilayah Kesultanan Samudera Pasai meliputi wilayah yang lebih luas lagi ke sebelah selatan, yaitu hingga ke muara Sungai Jambu Ayer (Ismail, 1997:7). Yang jelas, luas wilayah kekuasaan Kesultanan Samudera Pasai melingkupi sepanjang aliran sungai yang hulu-hulunya berasal jauh di pedalaman Dataran Tinggi Gayo, sekarang berada di dalam wilayah administratif Kabupaten Aceh Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam. Kesultanan Samudera Pasai juga berhasil meluaskan wilayahnya ke luar dari bumi Aceh. Beberapa daerah luar yang menjadi negeri taklukan Kesultanan Samudera Pasai antara lain Minangkabau, Palembang, Jambi, Patani, Malaka, bahkan hingga mencapai beberapa kerajaan di pesisir pantai di Jawa (Sufi & Wibowo, 2005:61).
4. Sistem Pemerintahan
Komposisi masyarakat yang menjadi warga Kesultanan Samudera Pasai menunjukkan sifat yang berlapis-lapis. Menurut Ayatrohaedi, lapisan itu terdiri atas Sultan dan Orang-Orang Besar kerajaan pada lapisan atas sampai dengan hamba sahaya pada lapisan yang paling bawah (Ayatrohaedi, 1992). Pada lapisan kelompok birokrasi terlihat adanya kelompok Orang-Orang Besar, perdana menteri, menteri, tentara, pegawai, dan kaum bangsawan kerajaan yang lainnya.
Adanya orang-orang yang bergerak dalam perdagangan, misalnya orang-orang yang berniaga, orang berlayar, orang pekan, nahkoda, dan lain-lainnya. Kendati jumlah populasi orang-orang Arab yang berdiam di Pasai tidak sebanyak orang-orang dari India, namun kalangan orang Arab sangat berpengaruh dalam jalannya pemerintahan kerajaan, bahkan atas kebijakan Sultan Pasai sekalipun. Keadaan ini terlihat sejak masa awal terbentuknya Kesultanan Pasai dan berlangsung lama hingga nama kerajaan ini berubah menjadi Kesultanan Samudera Pasai.
Pada masa pemerintahan Sultan Malik Al Salih sebagai penguasa pertama di Kesultanan Pasai, terdapat sejumlah Orang-Orang Besar di negeri itu, antara lain Tun Sri Kaya dan Tun Baba Kaya. Nama-nama itu jelas menunjukkan kedudukan mereka yang dinamakan Orang-Orang Besar tersebut. Hal ini sesuai dengan penyebutan Orang-Orang Besar kerajaan di Semenanjung Melayu dan Kesultanan Aceh Darussalam sebagai Orang Kaya (Ismail, 1997:39).
Kedua Orang Besar yang ikut mengontrol jalannya pemerintahan di Kesultanan Pasai itu masing-masing kemudian diberi gelar Sayid Ali Ghitauddin dan Sayid Asmayuddin, seperti yang telah disebutkan sebelumnya pada bagian keislaman Marah Silu atau Sultan Malik Al Salih. Dalam hikayat digambarkan dengan jelas bahwa Orang-Orang Besar itu disebutkan sebagai perdana menteri, satu untuk Kesultanan Pasai dan seorang lagi untuk Kesultanan Samudera. Kedudukan mereka yang sangat penting di sana berlangsung sejak rezim Sultan Malik Al Salih sampai era pemerintahan cucunya yaitu Malikul Mahmud dan Malikul Mansur.
Salah Satu Manuskrip yang Menunjukkan Keberadaan Pasai
Di masa kedua cucu Sultan Malik Al Salih itu berkuasa di masing-masing kerajaannya, terjadi sengketa di antara keduanya, yakni ketika Malikul Mansur melakukan perbuatan yang tidak senonoh terhadap salah seorang istri Malikul Mahmud. Mengetahui perbuatan hina saudaranya itu, Sultan Malikul Mahmud sempat berucap bahwa sekiranya ia tidak menghormati Sayid Asmayuddin, yang menjadi penasehat Sultan Malikul Mansur di Kesultanan Samudera, niscaya Sultan Malikul Mahmud sudah membunuh saudaranya sendiri atas perbuatan hina yang tidak termaafkan. Fragmen ini sudah cukup membuktikan bahwa betapa kuatnya pengaruh Orang-Orang Besar tersebut dalam ikut mengendalikan roda pemerintahan kerajaan, bahkan sampai pada tingkat mempengaruhi kondisi personal dan psikis Sultan.
Pada era kepemimpinan yang berikutnya, yakni di bawah rezim Sultan Ahmad Malik Az-Zahir (1346-1383), pemerintahan Kesultanan Samudera Pasai dikawal oleh empat orang perdana menteri, yang masing-masing bernama Tulus Agung Tukang Sukara, Baba Mentuha, Sulaiman Dendang Air, dan Tun Syah Alam Kota (Jones [ed.], 1999:36). Masih sama seperti pada masa-masa sebelumnya, keempat perdana menteri tersebut menjalankan fungsinya sebagai penasehat Sultan dan ikut mempengaruhi kebijakan kerajaan kendati keputusan akhir masih tetap berada di tangan Sultan Samudera Pasai. Kehidupan sosial dan politik warga Kesultanan Samudera Pasai sangat diwarnai oleh unsur agama dan kebudayaan Islam. Pemerintahannya bersifat teokrasi (berdasarkan ajaran Islam) dan sebagian besar rakyatnya memeluk agama Islam.
(Iswara NR/Ker/01/10-2009)
Referensi:
  • -------. 25 Maret 2009. “Makam Perdana Menteri Samudera Pasai Ditemukan”, dalamhttp://indowarta.com. Data Diunduh pada 06 Oktober 2009.
  • -------. 17 Maret 2009. “Stempel Usia 683 Tahun Milik Kerajaan Pasai Ditemukan”, dalamhttp://acehlong.com. Data Diunduh pada 06 Oktober 2009.
  • -------. 20 Juni 2009. “Peneliti Temukan Makam Panglima Pasai”, dalam http://www.waspada.co.id. Data Diunduh pada 06 Oktober 2009.
  • -------. 21 Agustus 2009. “LePSI Kaji Naskah Surat Sultan Samudera Pasai”, dalamhttp://www.waspada.co.id. Data Diunduh pada 06 Oktober 2009.
  • Alfian, T. Ibrahim. 1973. Kronika Pasai: Sebuah Tinjauan Sejarah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  • Ayatrohaedi. 1992. “Struktur Masyarakat Pasai”, dalam Makalah yang Disampaikan pada Diskusi mengenai Pasai dalam Sejarah, Cisarua, 25-28 September 1992.
  • Azwar, Pocut Haslinda Hamid. 2009. “Sultanah Nahrasiyah”, dalam http://www.modusaceh-news.com,28 April 2009.
  • Ismail, Muhammad Gade. 1997. Pasai dalam Perjalanan Sejarah: Abad ke-13 sampai Awal Abad ke 16. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
  • Jones, Russell. 1999. Hikayat Raja Pasai. Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan dan Penerbit Fajar Bakti.
  • Mansoer, M.D. "Beberapa Tjatatan tentang Masuk dan Berkembangnya Agama Islam di Pesisir Sumatera Utara", dalam Risalah Seminar Sedjarah Masuknya Islam ke Indonesia. 1963. Medan: Panitia Seminar Sedjarah Masuknya Islam Ke Indonesia.
  • Muljana, Slamet. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LKiS.
  • Ruslan, Heri. 2009. “Samudera Pasai Khilafah Islam Nusantara”, dalam Republika, 18 Maret 2009
  • Said, Mohammad, H. 1963. "Mentjari Kepastian tentang Daerah Mula dan Cara Masuknya Agama Islam ke Indonesia", dalam Risalah Seminar Sedjarah Masuknya Islam ke Indonesia. Medan: Panitia Seminar Sedjarah Masuknya Islam Ke Indonesia.
  • _______.  1981. Aceh Sepanjang Abad (Jilid Pertama). Medan: PT Percetakan dan Penerbitan Waspada Medan.
  • Soeratno, Siti Chamamah. 2002. “Islamisasi sebagai Pembina Kebesaran Melayu: Analisis Kontekstual Data Islamisasi Nusantara dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai”, dalam Sunaryo Purwo Sumitro. 2002. Dari Samudera Pasai ke Yogyakarta: Persembahan Kepada Teuku Ibrahim Alfian. Jakarta: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia.
  • Sufi, Rusdi. “Mata Uang Kerajaan-Kerajaan Aceh”, dalam Rusdi Sufi & Agus Budi Wibowo. 2004.Ragam Sejarah Aceh. Banda Aceh: Badan Perpustakaan NAD.
  • Sufi, Rusdi & Wibowo, Agus Budi. 2006. Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh. Banda Aceh: Badan Perpustakaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
  • Zainuddin, H.M. 1961. Tarikh Aceh dan Nusantara. Medan: Pustaka Iskandar Muda.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | 100 Web Hosting